![]() |
| https://whistleblowerprotection.eu/ |
JURNALISME sering diartikan sebagai keseluruhan proses dalam aktivitas jurnalistik, seperti pengumpulan informasi, wawancara, penyuntingan hingga penerbitan sebuah berita di media massa. Namun apakah definisi dari jurnalisme kemudian terbatas sampai di sana saja?
Makna dari jurnalisme itu sendiri lebih dari itu. Bukan hanya sekadar terletak pada sebuah aktivitas jurnalistik harian belaka, namun terdapat visi dan perjuangan di dalamnya. Bill Kovach dan Tom Rosenstiel dalam bukunya yang berjudul "The Elements of Journalism" menyebutkan kesetiaan jurnalisme adalah kepada warga (citizens).
Bisa dibilang, pada dasarnya, jurnalisme ada, adalah untuk rakyat. Untuk kepentingan rakyat secara umum. Bagaimana kemudian, segala proses jurnalistik ini memiliki dampak positif untuk rakyat. Seperti itulah seapa adanya jurnalisme. Jurnalisme dan rakyat adalah dua sisi yang tidak bisa dipisahkan. Rakyat tanpa jurnalisme akan mengalami kerancuan dan tersendatnya informasi. Sebaliknya, jurnalisme tanpa rakyat, hanya akan melahirkan kerja yang tiada berarti selain menjadi kegiatan tulis menulis biasa saja.
Masih Adakah Jurnalisme Sesungguhnya Itu?
Di era disrupsi informasi seperti saat ini, media massa konvensional mendapatkan ujian idealisme yang cukup berat. Bukan hanya dihadapkan pada soal kualitas jurnalistik belaka, namun juga soal kapital. Media massa juga merangkap sebagai lembaga bisnispun menjadi tak terelakkan. Kecuali media tersebut adalah lembaga sosial, maka bisa dibilang untuk kerja sehari-sehari jurnalis dan urusan dapur redaksi perlu pula pendanaan yang tak sedikit.
Dilematis. Antara pertarungan menjadi lembaga bisnis dan menjadi lembaga jurnalistik yang "murni" secara an sich hanya berpihak kepada rakyat. Di tengah "kue-kue" iklan dari lembaga swasta yang dimakan habis oleh media sosial milik asing berupa ads, bussiness ads, yang terukur dan bisa menyesuaikan budget pengiklan itu sendiri.
Masalahnya, rakyat kita sekarang ternyata mengalami pergeseran--jika tak mau disebut berubah total-- pada cara mendapatkan dan menerima informasi. Sebut saja koran, media massa cetak satu ini harus berhadapan dengan media daring yang menghadirkan berita gratis lewat gawai yang dimiliki pembaca.
Parahnya lagi, media daring juga seolah menghadapi "masa senjanya" sendiri dengan kemunculan media sosial dalam sepuluh tahun terakhir. Rakyat kini menikmati dan mendapatkan informasi lebih banyak di media sosial, seperti Instagram, Twitter dan media sosial lainnya. Bahkan media sosial ini merebut pasar iklan media massa daring dengan menyediakan fitur bussiness ads.
Dampaknya tentu saja, media massa, apapun bentuknya saat ini sedang berusaha keras, sangat keras untuk bisa bertahan. Sehingga mengaburkan esensi dari jurnalisme itu sendiri yang sebenarnya hadir dan ada untuk kepentingan rakyat. Kalau rakyatnya sendiri sudah mengalami pergeseran cara menerima berita, tentu saja akan ada pergeseran cara media massa mengemas berita dan mendapatkan pemasukan. Ini adalah sesuatu kenyataan yang tidak bisa kita pungkiri adanya hanya sekadar agar kita dibilang seseorang yang idealis saja.
Hal inilah yang kemudian, boleh jadi menyebabkan, lunturnya jurnalisme di dalam lembaga-lembaga jurnalistik sekarang ini. Namun bagaimanapun juga, jurnalisme secara dirinya sendiri akan tetap ada. Adapun praktik mengenai jurnalisme yang tidak berkesesuaian dengan filosofi jurnalisme itu sendiri adalah ulah dari oknum-oknum saja.
